MATINYA PENDIDIKAN INDONESIA (Refleksi Pemikiran Roem Topatimasang)

#LOGO UNY

Sesuatu dikatakan MATI apabila sesuatu itu sudah tidak bisa menjalankan fungsi sebagaimana mestinya. Orang dikatakan mati, apabila orang itu sudah tidak berfungsi sebagai orang, lampu dikatakan mati apabila sudah tidak berfungsi sebagai lampu, dan sebagainya

Bagaimana dengan pendidikan di Indonesia? Sebelum kita menjudge apakah pendidikan sudah mati atau belum, sebaiknya kita mengerti dulu peran dan fungsi pendidikan nasional. Menurut Bloom, pendidikan mempunyai bidang garapan pada ranah watak atau sikap (afektif), pengetahuan (kognitif), dan keterampilan (psikomotor). Saya menganggap itu berlaku semesta, bagaimanapun istilahnya sama, begitupun di sisdiknas.

Pada jaman Baheula, pendidikan kita banyak meluluskan orang-orang hebat. Bahkan sampai tahun 1970 an, Indonesia banyak menjadi rujukan bagi pelajar luar negeri untuk menempuh pendidikan. KATANYA (karena saya tidak lahir dijaman itu, jadi saya tidak tahu. hehe)

Namun pada jaman sekarang, mungkin pendidikan Indonesia meluluskan orang-orang hebat juga, namun orang-orang tidak baik seperti koruptor juga banyak di Indonesia. Jika ada manusia yang berkelakuan ½ manusia, ¼ binatang, dan ¼ setan. Apakah itu juga merupakan produk dari pendidikan Indonesia? Jika YA, maka apa makna dan fungsi pendidikan yang banyak dibangun di seluruh indonesia dan banyak meluluskan sarjana? Jika Tidak, (dengan asumsi perilaku buruk tersebut bentukan lembaga lain seperti diskotik, televisi, media massa, media sosial dan sejenisnya), lalu apalagi peran dan fungsi pendidikan untuk mengatasi dampak negatif tersebut? Seberapa kuat? Dan berapa lama waktu yang harus dihabiskan siswa disekolah, laboratorium, dan perpustakaan?

Selanjutnya tawuran pelajar, narkoba, mencurat coret pagar dengan cat, pelacur dsb. Itu salah siapa? Pendidikan kita? Atau salah sutradara film?…. lalu KORUPTOR? Itu salah siapa?

Lalu pada ranah kognitif, berapa banyak temuan-temuan ilmiah lulusan pendidikan Indonesia? Seberapa banyak jika dibandingkan dengan penelitian perusahaan, militer? Meskipun mereka juga merupakan lulusan pendidikan indonesia, namun apakah melakukan temuan ilmiah yang memacu nafsu serakah, menguras sumber daya alam dengan merusak lingkungan apakah itu yang diajarkan pendidikan kita? Apakah makin pintar, makin kaya, makin berkuasa merupakan paradigma pendidikan kita? Jika YA, lalu apa kaitannya dengan tujuan pendidikan nasional? Jika TIDAK, lantas apa sebenarnya yang diajarkan pendidikan kita? Ilmu pengetahuan atau sekedar rubrik “sebaiknya anda tahu”?

Keterampilan. Seberapa besar keterampilan yang diajarkan pendidikan Indonesia? Kebanyakan lembaga pendidikan mempunyai laboratorium praktik dan sejenisnya. Namun kenapa saat memasuki dunia kerja kita masih harus menjalani masa training, latihan, pra jabatan. apakah laboratorium praktik dan sejenisnya tersebut hanya sebagai pelengkap (embel-embel) kurikulum?

Jika YA buat apa semua laboratorium, bengkel, alat-alat praktik yang mahal-mahal itu? Jika TIDAK, lantas kenapa banyak orang bekerja tidak sesuai bidangnya? Seorang sarajana hukum jadi kasir, sarjana pendidikan jadi pedagang, sarjana ekonomi jadi tukang ojeg.

Silahkan direnungkan, jika jawaban dari semua pertanyaan tersebut adalah YA, maka harus diakui pendidikan kita sudah mati. Tapi saya tidak se tega itu mengatakan pendidikan kita sudah mati. Yaaa… setidaknya LUMPUH Lah. Karena dengan lumpuh, masih ada kesempatan buat kita untuk memperbaiki pendidikan. apakah dari sistemnya? Pendidikanya? Kebijakaan? Menajemen? siswa? Kurikulum? Atau semuanya? Mari kita diskusikan. Bukankah itu tugas kita (mahasiswa) selaku agen perubahan dan iron stock.

Asep Irpan Nugraha