PERLUKAH SERAGAM SEKOLAH?

Seragam sekolah merupakan pakaian yang wajib dikenakan siswa saat berada disekolah. Seragam sekolah berbeda sesuai dengan jenjang pendidikan siswa tersebut. Menurut Permendikbud no.45 tahun 2014, seragam sekolah mempunyai 4 tujuan, yaitu: 1) menanamkan dan menumbuhkan rasa nasionalisme, kebersamaan, serta memperkuat persaudaraan sehingga dapat menumbuhkan rasa semangat kesatuan dan persatuan dikalangan peserta didik. 2) meningkatkan rasa kesetaraan tanpa memandang kesenjangan sosial ekonomi orang tua atau wali peserta didik. 3) meningkatkan disiplin dan tanggung jawab peserta didik serta kepatuhan terhadap peraturan yang berlaku. 4) menjadi acuan bagi sekolah dalam menysun tata tertib dan disiplin peserta didik, khususnya yang mengatur seragam sekolah. Namun, benarkah penentu rasa kesatuan, disiplin dan sebagainya didasarkan atas apa yang dikenakannya? Penulis rasa tidak.

Pendidikan sebagai proses pembebasan dan proses keberagaman (bukan penyeragaman). Paulo Freire mengatakan ada 3 tingkat penyadaran dalam pendidikan (dalam teori pendidikan kaum tertindas). Yang pertama adalah kesadaran magis dimana pada tingkat ini orang masih mempercayai hal-hal yang bersifat spiritual. Seperti saat hasil panen gagal itu berarti sesajennya kurang. Yang kedua yakni kesadaran naif, dimana orang melimpahkan suatu kesalahan ke orang/benda lain. Misal saat BBM naik, maka yang salah adalah presiden. Untuk kesadaran yang ketiga adalah keadaran kritis, yakni proses kesadaran yang dilakukan dengan mencari causa prima atau penyebab utama suatu masalah. Kesadaran inilah yang harus diterapkan dalam pendidikan indonesia.

Melihat 3 konsep penyadaran Freire tersebut, bisa dikatakan pendidikan indonesia masih dalam proses kesadaran naif. Dimana kedisiplinan siswa dan rasa nasionalisme ditentukan dari apa yang dikenakannya. Dengan adanya seragam, siswa tidak tahu bahwa dirinya berbeda. Jika seragam sekolah meningkatkan rasa kesetaraan, lalu darimana siswa akan belajar saling menghargai? Penulis berasumsi bahwa sekolah membelenggu kebebasan siswa melalui kepemimpinan intelektual dan moral. Cara inilah yang dinamakan Antonio Gramsci dengan “hegemoni”, dimana sekolah atau pemerintah menggiring orang agar menilai dan memandang problematika sosial dalam kerangka yang sudah ditentukan kelas atas. Orang yang tidak memakai seragam kesekolah berarti ia tidak disiplin, tidak nasionalisme. Warga belajar tidak memiliki kesempatan untuk mengekspresikan kebebasannya karena semua format dan sistem telah dibuat sedemikian rupa untuk kepentingan tertentu.

Kebebasan adalah aspek penting dalam pendidikan untuk menjamin perkembangan ilmu pengetahuan. Kebebasan membuat siswa bisa lebih mandiri dan kritis. Seragam adalah pakaian, bukan soal disiplin, gampang dikendalikan. Kesenjangan sosial bukan timbul akibat tanpa seragam, tapi karena apa yang dilakukan, pilihan apa yang diputuskan. Dengan adanya penyeragaman dalam hal berpakaian, akan berdampak juga dalam penyeragaman dalam cara berpikir.

Mungkin seragam tidak perlu diterapkan setiap hari, melainkan disesuaikan dengan hari atau acara tertentu. Seperti di SMA de Brito Yogyakarta, disekolah itu seragam hanya digunakan pada hari senin karena ada upacara. Selain hari itu, pakaian siswa disana bebas rapi, bersepatu.